Selasa, 21 Agustus 2018

#RokokHarusMahal, Selamatkan Kelompok Rentan!



Bertahun-tahun lalu, saya pernah bertugas di sebuah daerah di ujung Pulau Sumatera. Blusukan ke berbagai daerah, termasuk daerah terpencil dengan akses jalan yang sulit, saya seringkali menemui anak-anak bergizi buruk. Temuan itu saya tulis dalam laporan jurnalistik dan dimuat di media tempat saya bekerja saat itu.

Singkat cerita, beberapa pihak yang membaca tulisan saya tertarik membantu anak-anak bergizi buruk. Mereka mengirimkan sejumlah uang dan meminta saya membelikan susu dan aneka makanan bergizi agar kondisi anak-anak itu membaik.

Maka, saya pun datang lagi ke beberapa lokasi. Kali ini, saya membawa susu bubuk kemasan besar untuk anak usia 1-3 tahun, bubur susu, biskuit, dan lainnya. Saya berharap, bantuan itu akan bermanfaat bagi anak-anak. Maka, betapa kagetnya saya saat bidan desa setempat justru menegur saya.

Mbak, lain kali kalau mau beri bantuan jangan susu kotak besar begini. Kasih yang kecil saja,kata Bidan.

Lha kenapa Bu?tanya saya.

Susu kemasan besar itu nanti diminum sama bapaknya Mbak. Dibikin kopi susu buat teman merokok,cerita Bu Bidan.

Whatt??? Saya kaget setengah mati. Desa-desa yang saya kunjungi itu bukan tergolong daerah yang kaya raya. Sebagian penduduk hidup dari hasil pertanian yang tak seberapa. Rumah berdinding bambu nyaris reyot banyak saya lihat. Ironis, sang bapak rela mengeluarkan uang untuk rokok dan membiarkan anaknya kurang gizi. Teganya lagi, ia rela mencatut jatah susu anak demi memuaskan hasrat merokoknya.

Apa yang saya alami rupanya persis seperti yang diceritakan Manager Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs Bappenas Dr Arum Atmawikarta, MPH. Menurut Arum, data BPS menunjukan bahwa ternyata pengeluaran dari kelompok penduduk miskin untuk rokok itu besar sekali. Jadi, artinya, jika keluarga itu dikategorikan miskin maka dia mengeluarkan uang yang banyak sekali untuk membeli rokoknya.

Data dari Susenas yang dicatat pada periode 2004-2018 menunjukkan, sekitar 22 persen dari pengeluaran digunakan untuk membeli beras, 12-17 persen untuk rokok, tiga persen untuk pendidikan, dan sekitar tiga persen dikeluarkan untuk kesehatan.

Jadi artinya ibu-ibu atau keluarga itu membelanjakan lebih banyak rokoknya daripada memberikan makanan yang lebih baik kepada bayi-bayinya atau balitanya, maupun untuk pendidikan anak-anaknya,kata Arum dalam talkshow serial #RokokharusMahal Ruang Publik KBR, 14 Agustus 2018 lalu.

Rokok sangat mempengaruhi kelompok rentan. Dari segi kesehatan, mereka yang termasuk kelompok rentan dari aspek kesehatan adalah bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan menderita penyakit.

Namun, kata Arum, ada kelompok rentan yang paling luas lagi yakni kelompok yang miskin, yaitu yang berpendapatan pada kuintil 1 dan kuintil 2. Jumlahnya, berdasarkan survei BPS yang baru saja diumumkan, sekitar 9,7 persen. Ada juga kelompok marjinal lain yaitu yang tinggal di daerah-daerah yang memang sulit dan terpencil.

Tak heran, di desa yang saya datangi, yang terletak jauh di kaki gunung dengan jalan berbatu-batu, kaum pria nya justru getol merokok. Sementara, kaum perempuan harus memutar otak agar semua kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Dan, dengan keuangan sangat terbatas, gizi anak terpaksa dikorbankan. Saya lihat sendiri, anak usia balita hanya diberi makan nasi dengan oseng-oseng kulit melinjo atau kuah soto. Dari mana gizi untuk tumbuh kembangnya didapat?

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Menurut Arum, yang terpenting adalah bagaimana melindungi agar rokok tak mudah diakses oleh kelompok-kelompok rentan. Lalu, harga rokok harus mahal. Di Indonesia, harga rokok terlalu murah dibandingkan negara-negara lain. Apalagi, rokok bisa dibeli secara eceran. Anak usia sekolah pun mudah mendapatkan rokok. Survey menunjukkan, penduduk miskin rata-rata dalam sehari mengonsumsi 11 batang rokok.

Salah satu kelompok rentan yang harus dilindungi adalah anak-anak usia di bawah 15 tahun. Di Indonesia, angka anak-anak yang mengonsumsi rokok jumlahnya terus meningkat setiap tahun.

Naikkan Harga Jual

Salah satu cara mengurangi konsumsi rokok adalah dengan menaikkan harga rokok. Di berbagai negara, menaikkan harga rokok 10 persen saja ternyata menekan jumlah perokok pada penduduk miskin hingga 16 persen. Sementara, pada kelompok kaya, jumlah perokok turun tujuh persen.

Dorongan untuk harga itu supaya lebih mahal, sudah kami lakukan, tetapi mungkin sebenarnya kalau di Indonesia harus penuh kesabaran. Dulu kan sudah ada rame-rame bahwa ada kajian berbagai pusat kebijakan, harga rokok itu harus dinaikan sampai 50 ribu. Tetapi, pada pelaksanaannya, kenaikan harganya itu tidak sampai 50 ribu dan sebagainya. Kita harus berjuang keras untuk hal itu,ujar Arum lagi.

Hak Untuk Sehat

Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Dr Abdillah Ahsan menambahkan, dalam konstitusi sudah diamanatkan pengendalian dan pengurangan konsumsi rokok.

Dalam Undang-undang Dasar 45 ada hak sehat, salah satu hak asasi manusia. Kemudian, ada UU Cukai yang menyatakan bahwa tarif beban cukai untuk mengendalikan konsumsi. Ada juga UU Kesehatan yang menyatakan bahwa rokok atau tembakau adalah barang yang adiktif, menimbulkan kecanduan, dan harus dikurangi konsumsinya.

Tiga pijakan ini adalah perintah untuk mengendalikan konsumsi rokok. Jadi pemerintah itu harus satu, harus bulat, yakin, dan percaya diri dalam mengendalikan konsumsi rokok. Karena seolah-olah saat ini yang kita lihat, di berita-berita, wacana-wacana, itu pemerintah tidak PD. Pemerintah tidak yakin ketika dia naikan tarif cukai untuk menaikan harga rokok. Pemerintah tidak yakin pada saat iklan rokok akan dilarang,kata Abdillah lagi.

Pertumbuhan ekonomi, jelas Abdullah, tidak boleh diserahkan kepada industri rokok. Mengendalikan konsumsi rokok membuat masyarakat sehat dan itu berguna bagi perekonomian. Pekerja yang merokok produktivitasnya lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak merokok karena mereka butuh waktu untuk merokok. Belum lagi mereka yang sakit akibat rokok, saat sakit itu dia tidak bisa bekerja. Masyarakat yang panjang umur dan sehat bisa produktif.

Arum menambahkan, secara garis besar, kalau ingin membatasi atau mengendalikan rokok, ada tiga kebijakan yang harus betul-betul diterjemahkan pada keadaan yang nyata nanti di lapangan. Pertama, mencegah konsumsi rokok bagi yang belum merokok. Yang kedua, memperkecil akses atau tempat-tempat dimana rokok itu bisa dibeli dengan mudah. Di negara-negara maju, misalnya, dijelaskan bahwa yang boleh merokok itu minimal usia 21 tahun dan hanya dijual di supermarket pada kotak khusus. Ketiga, membantu orang yang sudah kecanduan rokok.

Promosi kesehatan pada tingkat keluarga harus terus dilakukan. yaitu supaya kepala keluarga itu tidak merokok, atau jangan merokok di dalam rumah, karena dampaknya terutama kepada bayi, anak-anak dan ibu-ibu yang sedang hamil itu begitu besar sekali. Sudah dibuktikan bahwa keluarga yang merokok, tingkat kematian bayi itu lebih tinggi dibandingkan dengan  keluarga yang tidak merokok.

Bantuan-bantuan program pemerintah yang dikhususkan kelompok rentan dan kelompok miskin itu, jangan digunakan untuk membeli rokok.

#Rokokharusmahal
#Rokok 70ribu
#Rokokmemiskinkan 

Jumat, 01 September 2017

Purbasari Hi-Matte Lip Cream Hydra Series : Tonjolkan Sisi Cantikku


“Beauty, to me, is about being comfortable in your own skin. That, or a kick-ass red lipstick.” ― Gwyneth Paltrow
sumber : Taaz.com

Saya enggak pernah seberani Gwyneth Paltrow yang gemar mengenakan lipstik merah menyala di bibirnya. Kalau Paltrow nyaman dengan warna kulitnya dan bibir merah meronanya, saya justru sebaliknya.

Saya merasa bibir saya terlalu gelap sehingga tidak pas menggunakan warna cerah. Pilihan pelembab bibir saya selama ini hanyalah lip gloss, lip balm, atau lipstik berwarna sedekat mungkin dengan bibir, yang sayangnya, dalam beberapa jam sudah pudar warnanya. Itu sebabnya, saya jarang sekali tertarik mencoba produk lipstik baru (meski diam-diam mengagumi mereka yang berani mengenakannya)

Namun, di luar kebiasaan, saya jatuh cinta pada produk Purbasari Hi-Matte Lip Cream Hydra Series, yang baru saja diluncurkan oleh Purbasari. Saat mengikuti acara Cantik Bersama Purbasari di Solo Paragon beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mencoba dan langsung menyukai warna-warnanya yang lembut.


Foto : Yeni Puspitaningtyas

Ada lima varian warna yang ditawarkan, yakni
01.   Vinca
02.   Azalea
03.   Lantana
04.   Zinnia
05.   Freesia


Warna-warnanya bisa digunakan untuk berbagai kesempatan, mulai dari aktivitas sehari-hari, setengah resmi, hingga acara pesta.

Berbeda dengan lipstik yang terkadang membuat bibir terasa “berat”, menggunakan Purbasari Hi-Matte Lip Cream Hydra Series ini bibir terasa ringan dan warnanya tahan lama. Teksturnya lembut dan pemakaiannya sangat mudah, bahkan untuk orang seperti saya yang jarang menggunakan lipstik.

Purbasari Hi-Matte Lip Cream Hydra Series ini juga mengandung vitamin E, berguna sebagai antioksidan, membantu mempertahankan bibir tetap lembut, kencang, dan mengurangi tanda-tanda penuaan. Selain itu, lip cream ini juga mengandung UV filter, yang melindungi bibir kita dari paparan sinar matahari. Lip cream ini highly pigmented formula, ketika dioleskan menutup dengan sempurna sehingga bibir tampak mulus dan bebas kerut.
Foto : Yeni Puspitaningtyas

Teksturnya yang sangat creamy dan melembabkan bibir. Setelah dipakai, warnanya melekat di bibir dan tidak menempel di baju, tangan, atau gelas. Lipstik ini tahan lama dalam menghasilkan tampilan yang matte sepanjang hari .

Agar penilaian saya tak terkesan berat sebelah, saya meminta teman-teman saya juga  mencoba lip cream ini dan mereka suka. Lidya, teman saya, malah membandingkannya dengan produk lain yang harganya lebih mahal tetapi hasilnya tidak sebagus ini. 
Lidya memakai Lantana, dan menyukai teksturnya yang creamy dan tahan lama di bibir


Warna nude pada Vinca juga keren banget. Namun, teksturnya sedikit lebih kering dibandingkan yang lain. 



Teman saya yang lain, Ana, bereksperimen mencampurkan Freesia dan Vinca dan dia terlihat sangat keren dan tampil beda di kantor.


Saya sendiri menyukai Azalea, yang menurut saya warnanya lembut dan manis. Bukan hanya mempercantik bibir, produk ini juga memperbaiki kondisi bibir saya yang kering.

Sebelum mencoba memakainya, ada beberapa hal yang menarik perhatian saat pertama kali mengenal Purbasari Hi-Matte Lip Cream Hydra Series :

Kemasan



Kemasan lip cream yang satu ini sangat menarik. Pembungkusnya berwarna hitam elegan dengan lubang menyamping yang memperlihatkan warna lip cream. Keterangan dalam kemasan sangat lengkap, mulai dari sertifikasi halal Majelis Ulama Indonesia, bahan-bahan pembuatnya, hingga tanggal kadaluwarsa. Kalau kemasannya hilang, jangan takut, di tubuh lip cream ini juga disertakan tanggal kadaluwarsa.

Aplikator



Aplikator lip cream ini juga mudah dan nyaman digunakan. Namun, harus sedikit berhati-hati saat menarik aplikator keluar dari tabung lip cream agar tak terlalu banyak lip cream yang menempel di aplikator. Saran saya, tarik perlahan-lahan sampai mendapatkan ketebalan lip cream yang diinginkan.

Harga

Harga produk ini sangat terjangkau, di kisaran Rp 45.000-Rp 50.000 saja. Sehingga, siapa pun bisa membelinya

Dengan kelebihan yang segudang itu, rasanya tak salah untuk beralih ke Purbasari Hi-Matte Lip Cream Hydra Series. Saya hanya berharap, Purbasari mau menambah varian warna lip cream agar semakin kece.

Senin, 30 September 2013

Dukungan Penuh Bantu Anak Saya Jadi Pemimpin Kecil...


Dunia tak selalu ramah bagi anak saya, Rumaisha Raihanun Aqila, atau biasa saya panggil Hanun. Sifatnya yang tidak bisa langsung akrab dengan orang baru membuat Hanun seringkali dianggap pemalu dan penakut.
Salah satu orang tua teman Hanun bahkan terang-terangan membandingkan anaknya dengan anak saya. “Kalau Hanun kan diam saja ya, enggak seperti anak saya. Dia aktif banget dan enggak bisa diam,” kata si Ibu.

Sebenarnya Hanun banyak memiliki bakat. Di rumah pun perkembangannya sangat baik. Dia suka sekali buku, senang bercerita, gemar menggambar dan mewarnai. Hanun suka menari dan menyanyi, hafal beberapa lagu berbahasa Inggris serta memiliki daya ingat yang sangat kuat. Dia aktif berlarian ke sana kemari, belajar sepeda, menyiram tanaman, dan aktivitas anak-anak lainnya.

Namun, Hanun memang tidak bisa langsung akrab dengan orang baru. Dia perlu mengenal dan merasa nyaman dengan seseorang sebelum memutuskan untuk dekat dengan orang tersebut. Kalau sudah akrab, Hanun akan terbuka, bercanda, dan ngobrol seperti biasa.

Sayangnya, banyak orang menganggap anak yang cepat akrab dengan orang lain adalah anak yang lebih cerdas, berani, dan kreatif. Dan, karena Hanun tidak bisa langsung akrab, dia langsung dicap sebagai “anak penakut”.

Sebagai ibu, saya tidak bisa tinggal diam. Saya tidak bisa membiarkan stigma anak penakut melekat terus di benak anak saya dan malah menghambat perkembangannya. Saya pun mulai menyusun strategi!
Strategi pertama, saya mulai “menjauhinya” perlahan-lahan. Selama ini, Hanun memang banyak bergaul dengan saya. Apalagi, di rumah tidak ada asisten dan babysitter. Alhasil, Hanun nyaris tidak pernah lepas dari saya.

Saya mulai “menjauh” dengan cara mengambil beberapa pekerjaan freelance. Sebelum punya anak, saya memang bekerja . Namun, karena ingin sepenuhnya berada dekat si kecil, saya memutuskan untuk berhenti.

Dengan mengambil pekerjaan freelance, Hanun “terpaksa” saya titipkan pada eyangnya selama beberapa jam dalam sehari. Agar Hanun tidak kaget, saya mengawali “perpisahan” saya dengan membiarkan eyangnya menjemput Hanun.

Awalnya, Hanun memang bertanya dan protes, tetapi lama-lama dia mengerti dan bahkan menikmati perjalanan pulang sekolah bersama eyang.

Setelah berhasil, saya pun mulai bilang kepada dia secara pelan-pelan,”Nun, mama sekarang kerja. Nanti pulangnya dibawakan apa?”kata saya.

Pertama kali ditinggal, Hanun menangis. Saya konsisten membawakannya hadiah kecil setiap pulang kerja. Hadiah itu biasanya susu kesukaannnya atau cemilan ringan dan kue.

Lama-lama, anak saya sudah mau ditinggal dan tidak rewel. Sekarang, dia bahkan minta saya tidak usah membawakannya oleh-oleh. “Nanti saja kalau mama pulang, aku diajak beli. Aku mau milih sendiri,” kata anak saya.

Beres strategi pertama, saya pun beralih ke strategi kedua, yakni mengikutkannya dalam kegiatan yang melibatkan banyak orang. Saya pun membuat jadwal kegiatan Hanun, tentu saja yang tidak memberatkan bagi anak seusia dia.

Setiap Selasa, anak saya ikut mewarnai, telling story, dan menonton film bersama di Perpustakaan Ganesa, sebuah perpustakaan yang didirikan oleh pasangan suami istri dari Amerika Serikat (AS). Di tempat itu, banyak anak-anak seusia Hanun yang rutin ikut kegiatan.

Awalnya, saya harus menungguinya. Lama-lama, Hanun sudah bisa saya tinggal. Dia bahkan akrab dengan pustakawan-pustakawati di sana dan punya banyak teman baru.
Foto: Hanun bersama founder Perpustakaan Ganesa, Michael Mrowka

Kegiatan lain adalah menari dan mengaji di TPA. Setiap Senin dan Kamis, Hanun menari di sebuah sanggar tari di Istana Mangkunegaran Solo. Di tempat ini, balita hingga dewasa berlatih menarikan tarian Jawa.
Hanun sempat ngambek dan ogah-ogahan diajak menari. Tetapi,lama-lama, saya lihat dia punya teman baru. Hanun pun sekarang tak pernah absen lagi menari. Bahkan, dia kesal kalau saya minta libur latihan tari.


Sementara, TPA jadwalnya setiap hari Rabu dan Jumat. Ini yang paling sulit. Dia awalnya menolak, alasannya ada-ada saja. Intinya, saya melihat dia “takut” menghadapi situasi berada dengan teman-teman yang tak dia kenal.
Saya pun membelikannnya baju muslim baru. Eyangnya mengantarkan Hanun ke mesjid sambil menitipkannya pada seorang anak di situ. Tak berapa lama, Hanun sudah berani pergi ke TPA sendiri dan bahkan enggan diantar. Dia pun sudah punya banyak teman di situ.

Beberapa bulan setelah berbagai strategi ini saya terapkan, banyak perubahan positif dalam diri anak saya. Sekarang, dia lebih berani mengemukakan pendapat, berani maju, dan cukup percaya diri. Guru kelasnya berkata, banyak kemajuan yang dicapai Hanun. Dia sudah berani mempertahankan haknya jika diganggu teman, mengemukakan pendapat di depan teman-teman, dan beberapa kali memimpin doa dan berperan aktif dalam kelompok.
Saya yakin, dengan dorongan yang tak pernah putus, Hanun pun akan jadi pemimpin kecil. Dia mungkin butuh waktu beradaptasi, tapi itu bukan berarti dia tak berani. Saya berharap, Hanun tidak hanya menjadi pemimpin yang berani, tapi juga penuh empati.


Sabtu, 10 November 2012

Andai Aku Menjadi Ketua KPK...


Kenangan itu masih terus menghentak dan menghantui diri saya. Seorang nenek menangis karena tidak beroleh jatah beras untuk rakyat miskin. Alasannya, dia belum membayar “uang administrasi” bagi oknum kelurahan. Saat akhirnya dia mendapat beras itu karena dapat pinjaman uang untuk membayar, alamak, berasnya bau dan berkutu. Tak ada pilihan, beras itu ditanaknya juga karena tak ada lagi yang bisa dimakan.

Oh, saya menangis. Dimana KPK dan para pembela keadilan itu? Seandainya saya jadi ketua KPK, saya akan berantas korupsi di semua lini. Sasaran saya terutama koruptor kelas kakap yang karenanya rakyat tak bisa makan, sekolah, dan berobat dengan murah. Sebagai ketua KPK, saya akan membangun penjara yang lebih besar, di dalamnya tidak ada fasilitas mewah, hanya fasilitas minim setara dengan pencuri kelas teri yang biasa digebuki.

Para koruptor akan mendapat baju seragam, tulisannya “KORUPTOR ABADI”. Hartanya dirampas, diserahkan pada negara, dan mereka dimiskinkan tujuh turunan. Saya akan permalukan para koruptor agar tidak ada lagi yang masuk bui sebagai pesakitan namun keluar dianggap pahlawan.

Sebagai ketua KPK, saya tak akan gentar terhadap semua ancaman. Kalau perlu, saya pakai kekuatan rakyat. Semua langkah saya diketahui masyarakat. Dengan demikian, saya bisa bebas menangkap para petinggi atau kolega petinggi negeri ini yang korupsi.

KPK di bawah pimpinan saya juga akan memberikan pendidikan antikorupsi di semua tingkatan pendidikan, mulai playgroup sampai kuliah. Saatnya negeri ini melek korupsi. Kaya karena korupsi itu bukan prestasi. Justru miskin tapi antikorupsi yang harus dihargai.

http://lombablogkpk.tempo.co/index/tanggal/576/Khairina.html

Selasa, 16 Oktober 2012

PLN...Semoga Cahayamu Tak Padam Lagi

Di Solo, tempat tinggal saya, dia dinamai oglangan. Namun, di Bandung, daerah kelahiran saya, kondisi seperti itu dinamakan aliran. Agak aneh ya? aliran kan sebenarnya istilah untuk sesuatu yang mengalir, misalnya aliran air atau aliran listrik. Namun, istilah aliran malah dipakai untuk kondisi MATI LAMPU alias listrik padam atau tak ada aliran listrik yang mengalir.

Saya belum tahu apa penyebab mati lampu disebut aliran. Yang saya tahu, setiap ada teriakan "aliraaaaannn...", semua pasti kalang kabut. Warung dan mini market dekat rumah diserbu masyarakat yang ingin membeli lilin dan bapak-bapak pengamanan di kompleks rumah saya kalang kabut berjaga. Maklum, meski rumah saya di kompleks, tapi dibatasi oleh jalan tembus, perkampungan, tanah kosong, bahkan kebun bambu yang angker. Tanpa penerangan yang memadai, kompleks rumah saya adalah sasaran empuk orang-orang berniat jahat.

Saat saya mengalami mati lampu di Bandung dan sekarang di Solo, rasanya sedih sekali. Namun, ternyata perasaan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan saat saya harus berada dalam kondisi tanpa listrik di Lampung, ujung timur pulau Sumatera. Bertugas di provinsi itu selama satu tahun membuat saya nyaris terbiasa dalam kondisi was was dan ketakutan dalam kegelapan.

Bayangkan saja, tengah malam buta, sepulang bertugas meliput kondisi jalan raya Simpang Pematang-Pematang Panggang hingga perbatasan Sumatera Selatan, tiba-tiba ban mobil saya pecah. Jalanan gelap, tak ada listrik. Beruntung, supir mobil yang menemani saya berhasil mengganti ban sehingga kami bisa pulang. Namun, saat itu bibir saya tak henti-hentinya melantunkan doa, dzikir, dan ayat suci, mohon diberikan keselamatan.

Kondisi mencekam lainnya saya alami saat tengah bekerja di kantor. Saat itu pukul 8 malam, hujan deras, dan tiba-tiba lampu padam. Ruangan kerja saya di lantai dua, dan saat saya turun ke bawah, saya baru sadar kalau di kantor tidak ada orang. Padahal, kantor saya berada di daerah yang cukup rawan. Saya takut sekali, sampai tak bisa berbuat apa-apa selain menangis tersedu-sedu.

Apa yang saya alami ternyata tidak cukup mencekam dibandingkan anak-anak Pulau Legundi, satu pulau kecil diantara pulau-pulau kecil lainnya yang masuk provinsi Lampung. Setiap malam memang tidak ada listrik di pulau itu. Sumber penerangan hanya dari generator yang dinyalakan sesekali. Jangan tanya bagaimana mereka belajar. Mereka tidak belajar, karena memang sekolah hanya beberapa kali seminggu.
Ibu guru yang bertugas mengajar di pulau itu tinggal di Teluk Betung, Bandar Lampung dan jelas tidak mampu kalau harus membayar charter perahu sebesar Rp 100.000 setiap berangkat mengajar. Jadilah sekolah mereka jadi tempat berteduh kambing di siang hari sekaligus tempat kambing itu tidur di malam hari.

Listrik juga menjadi barang mahal di Nias Selatan. Saya pernah menginap di suatu hotel lumayan mewah (untuk ukuran daerah itu) dan listriknya tidak menyala. Untung saja, hotel punya generator jadi saya dan teman-teman masih bisa menikmati santap malam dengan nyaman. Akan tetapi, saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anak-anak yang keesokan paginya harus bersekolah atau bagaimana nasib nelayan yang harus menambal jala untuk berangkat esok Subuh.

Saya pernah bertanya kenapa sih listrik padam terus, terutama di Pulau Sumatera? Padahal kan dari pulau ini lah batu bara sebagai bahan utama pembangkit listrik dikeruk. Jawabannya macam-macam. Ada yang bilang, karena beberapa pembangkit listrik menggunakan bahan bakar minyak (BBM), dan BBM  harganya naik terus, jadi terpaksa PLN mengadakan pemadaman bergilir. Alasan lain adalah karena pembangkit listrik yang sudah tua sehingga kinerjanya tidak optimal. Atau ada pula alasan penggunaan listrik terlalu boros sehingga daya yang dihasilkan PLN tidak cukup untuk menerangi seluruh penjuru negeri.

Alasan-alasan itu tentu saja membuat rakyat semakin geram. Apalagi, hampir setiap tahun ada kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Kenaikan ini jelas diikuti oleh kenaikan harga-harga lainnya. Padahal, kenaikan TDL tidak diimbangi dengan meningkatnya pelayanan PLN. Listrik padam, bayar listrik tetap saja antre, dan seringkali ada kesalahan perhitungan tagihan listrik. 


TITIK TERANG PLN
Saat  Dahlan Iskan diangkat menjadi Direktur Utama PLN pada 23 Desember 2009, barulah titik terang  terlihat. Dengan motto bekerja, bekerja, dan bekerja, PLN di tangan Dahlan Iskan membuat berbagai gebrakan. Listrik pra bayar, misalnya, membuat orang tak lagi harus antre berjam-jam untuk bayar tagihan listrik. Sekarang, hanya dengan mengisi voucher, orang bisa menikmati listrik dengan pemakaian yang diatur sendiri. Jumlah pelanggan listrik pintar ini terus meningkat, hingga mencapai 5 juta pelanggan pada Mei 2012.

Selain itu, bagi pelanggan regular, tagihan listrik juga bisa dibayar lewat anjungan tunai mandiri (ATM) sebagian besar bank. Pelanggan juga bisa mengecek tagihan listriknya secara online kewat situs PLN di www.pln.co.id. Sungguh praktis. Tinggal masukkan nomor rekening listrik anda, langsung keluar angka yang harus dibayar. Sangat berbeda dengan masa lalu dimana orang harus antre berjam-jam untuk membayar tagihan listrik…

Dahlan juga membuat gerakan sehari sejuta  sambungan (GRASS), untuk menjangkau daerah-daerah yang belum tersentuh listrik. Kini, orang tak perlu bertahun-tahun antre agar rumahnya terang benderang.  Bahkan, di wilayah timur Indonesia, seperti NTT, PLN sudah menggagas program lampu super ekstra hemat energi (SEHEN). Ini adalah listrik tenaga surya model baru. Melalui program ini, masyarakat terpencil, yang selama ini hanya mimpi punya listrik, sudah bisa menikmati acara televisi.

Di dalam perusahaan, PLN juga menerapkan Good Corporate Governance. Artinya, PLN berusaha jadi perusahaan yang bersih dan profesional.

Lalu, apa yang harus diperbaiki dari PLN ? Banyak…

Di usianya yang ke-67, PLN harus lebih bersih dan profesional. PLN harus bisa mengubah image korupsi dan tidak efisien yang selama ini melekat.

Listrik harus bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia tanpa terkecuali. Saat ini, masih ada daerah-daerah yang rasio elektrifikasinya rendah. Padahal, daerah-daerah itu, seperti Papua, misalnya, adalah daerah potensial, dengan sumber daya alam dan manusia yang melimpah…Bagaimana wilayah timur Indonesia mau berkembang jika infrastruktur kelistrikannya payah ?

PLN  juga harus memastikan tidak ada lagi pemadaman, baik bergilir atau spontan. Pemadaman listrik itu  "sesuatu banget", mengutip istilah anak muda sekarang . Listrik mati memang membuat perasaan enggak enak dan hidup enggak nyaman.

Ada kewajiban lain yang seharusnya dilakukan PLN, sebagai perusahaan milik pemerintah. Sudah saatnya PLN mendidik dan membina masyarakat agar mandiri energi, sehingga tidak tergantung pada PLN.  Banyak sekali sumber daya yang bisa dijadikan sebagai energi alternatif. Misalnya, minyak jarak atau biogas. PLN selayaknya memberikan pendampingan dan penghargaan pada masyarakat yang mau berbuat lebih...

Selamat ulang tahun PLN...semoga semakin bersinar dan cahayamu tak padam lagi...

sumber: www.pln.co.id